Contoh makalah teks drama

Iklan/Advertisment

Artikel terkait : Contoh makalah teks drama

Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater.Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton


Berikut ini adalah Contoh makalah teks drama

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1                        Latar belakang
            Putu Wijaya adalah seorang sastrawan di Indonesia yang masih aktif dalam kegiatan kesastrawanannya khususnya dalam bidang darama teater. Kali ini kita akan membahas tentang salah satu karyanya yaitu novel Bila Malam Bertambah Malam. Dalam novel yang terlalu rumit ini bagaimana pencerita menggabungkn antara latar dengan bagaimana keadaan setiap tokohnya, namun disusun dengan rapi.
Dalam novel ini menceritakan bagaimana dalam sebuah keluarga yang banyak sekali kepura-puraan. Dalam kepura-puraan itu sebenarnya setiap tokok mempunyai seuatu perasaan kepada tokoh lain. Kenapa saya sebut menarik, karena kepura-puraan atau kemunafikan telah banyak dilakukan di dalam kehidupan kita.
            Dalam keadaan masyarakat dan bangsa yang sudah sulit untuk saling memprcayai karena sebab kepura-puraan itu sendiri. Sehingga dalam novel ini sangat menggambarkan jelas bagaimana Putu Wijaya mampu mengangkat realitas kedalam cerita fiktif namun dalam keadaan yang sebenarnya novel ini berbeda tipis antara bagaimana novel ini disebut sebagai cerita fiktif atau realitas.
1.2               Sistematika
Novel ini menceritakan seorang janda yang begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya dengan dilayani dua pembantu: seorang lelaki tua bernama Wayan, dan seorang wanita muda bemama Nyoman Niti. Pada puncak pertengkaran dengan majikan, Wayan meninggalkan tempat ia mengabdi, setelah Nyoman pergi mendahuluinya. Akan tetapi, kepergiannya terhalang mendengar pertengkaran janda bangsawan itu dengan anaknya yang baru dating dari Pulau Jawa, Ngurah. Karena persoalan bedil yang dibawa Wayan, terbukalah rahasia keluarga itu. Wayan sebenarnya adalah ayah Ngurah, karena suami Gusti Biang, yaitu Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukanlah lelaki sejati. Bahkan suami yang selalu dibanggakan sebagai pahlawan itu sebenarnya seorang pengkhianat, sebab ia adalah mata-mata Nica.
Dalam permasalahan keluarga Gusti Biang, sebenarnya ia mencintai wayan namun karena tidak ingin anaknya mengetahui bahwa ayah yang sebenarnya adalah seorang pembantinya, maka Gusti Biang mengungkapkan rasa cintanya kepada wayan dengan membentak-bentak dan memarahi wayan, namun dalam hatinya berbeda.
Permasalahan juga datang saat Ngurah anak Gusti Biang ingin menikahi Nyoman yang notabene adalah pembantunya sendiri. Gusti Biang menolak jika Ngurah ingin menikahi nyoman kecuali hanya dijadikan selir.
Setelah itu Ngurah yang tahu bahwa I Gusti Ngurah Ketut bukan ayah sebenarnya dan mengetahui bahwa sebenarnya adalah seorang mata-mata Nica maka Ngurahpun perlahan benci. Setelah Bedil yang dimiliki oleh Wayan mengenai I Gusti maka Ngurah pun tidak sedih karena I Gusti dianggapnya sebagai penghianat.
Ketika Wayan membuka rahasia keberadaan Ngurah: Wayanlah ayah kandung Ngurah, sebab suami Gusti Biang wangdu. Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas.
Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah – Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah – Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.
BAB II
PEMBAHASAN TEORI
Pendekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (wiyatmi, 2003). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat.
Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat.
Selain itu beberapa pendekatan lain guna mendukung adalah Pendekatan psikologi sastra. Dalam penciptaan karya sastra  memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek & Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahadapi situasi yang ada.
2.1 Biografi




I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom Tabanan, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 70 tahun) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia penulis drama, cerpen, esai, novel dan juga skenario film dan sinetron.
Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya bernama Mekel Ermawati. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul "Etsa" dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan drama sendiri dan menyutradarai dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogyakarta. Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer. Selanjutnya dengan Teater Mandiri yang didirikan pada tahun 1971, dengan konsep "Bertolak dari Yang Ada. [2]
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri, beberapa diantaranya yaitu mementaskan naskah Gerr (Geez), dan Aum (Roar) di Madison, Connecticut dan di LaMaMa, New York City, dan pada tahun 1991 membawa Teater Mandiri dengan pertunjukkan Yel keliling Amerika. [3]. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali. Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Rusia, Perancis, Jepang, Arab dan Thailand. [4]
2.2  Pendidikan
§  TK International Jokowi Ilahi Cahyanegara , Houston, Texas, AS (1953)
§  SR, Tabanan (1956)
§  SMP Negeri, Tabanan (1959)
§  SMA-A, Singaraja (1962)
§  Fakultas Hukum UGM (1969)
§  ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
§  LPPM, Jakarta (1981)
§  International Writing Programme, Iowa, AS (1974)
2.3  Karya dan karier
Ø  Karya drama
§  Dalam Cahaya Bulan (1966)
§  Lautan Bernyanyi (1967)
§  Bila Malam Bertambah Malam (1970)
§  Invalid (1974)
§  Tak Sampai Tiga Bulan (1974)
§  Anu (1974)
§  Aduh (1975)
§  Dag-Dig-Dug (1976)
§  Gerr (1986)
§  Edan (1988)
§  Hum-Pim-Pah (1992)
§  Konspirasi Kemakmuran
§  Blongkan
§  Ayokan
§  Awaskan
§  Labil Ekonomi
§  Aumkan
§  Zatkan
§  Taikan
§  Frontkan
§  Aibkan
§  Wahkan
§  Hahkan
§  Jepretin tuh Staples! (2011)
§  Aeng
§  Aut
§  Dar-Dir-Dor
§  Karya novel
§  Telegram (1972)
§  Stasiun (1977)
§  Pabrik (1976)
§  Keok (1978)
§  Aduh
§  Bali
§  GURU
§  Gres
§  Lho (1982)
§  Merdeka
§  Nyali
§  Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)
§  Dar Der Dor (Grasindo, 1996)
§  Aus (Grasindo, 1996)
§  Sobat (1981)
§  Tiba-Tiba Malam (1977)
§  Pol (1987)
§  Putri
§  Terror (1991)
§  Merdeka (1994)
§  Perang (1992)
§  Lima (1992)
§  Nol (1992)
§  Dang Dut (1992)
§  Cas-Cis-Cus (1995)
Ø  Karya cerpen
Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978)
§  Es Campur (1980)
§  Gres (1982)
§  Klop
§  Bor
§  Protes (1994)
§  Darah (1995)
§  Yel (1995)
§  Blok (1994)
§  Zig Zag (1996)
§  Tidak (1999)
§  Peradilan Rakyat (2006)
§  Motherfucking Piece of Shit! (2010)
§  Karya Novelet:
§  MS (1977)
§  Tak Cukup Sedih (1977)
§  Ratu (1977)
§  Sah (1977)
Ø  Karya esai   
Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.
2.4  Penghargaan yang telah diterima
§  Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta)
§  Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
§  Pemenang penulisan novel IKAPI
§  Pemenang penulisan drama BPTNI
§  Pemenang penulisan drama Safari
§  Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
§  Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
§  Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
§  Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
§  Pemenang penulisan esei DKJ
§  Dua kali pemenang penulisan novel Femina
§  Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
§  Pemenang penulisan cerpen Kartini
§  Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
§  Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
§  SEA Write Award 1980 di Bangkok
§  Pemenang penulisan esei Kompas
§  Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
§  Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
§  Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)
§  Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden RI (2004)
§  Penghargaan Achmad Bakrie (2007)
§  Penghargaan Akademi Jakarta(2009)
2.5  Kegiatan lainnya
§  Wartawan majalah Ekspres (1969)
§  Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
§  Wartawan majalah Tempo (1971-1979)
§  Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
§  Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)
2.6  Resume Novel “Bila Malam Bertambah Malam”
Keberadaan karya sastra angkatan '66 ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Karya sastra pada angkatan ini sangat beragam akan aliran sastra yaitu surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi  yang lainnya.
Salah satu sastrawan yang termashyur pada masa itu adalah Putu Wijaya. Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Karya sastranya yang terkenal salah satunya adalah "Bila Malam Bertambah Malam." Novel ini mengisahkan tentang kesetiaan untuk memelihara cinta yang berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang membeda-bedakan manusia, disini mengisahkan bagaimana dalam sebuah keluarga terdapat banyak sekali kepura-puraan. Dalam kepura-puraan itu sebenarnya setiap tokoh mempunyai seuatu perasaan kepada tokoh lain. Kisahnya berlangsung di Tabanan, Bali. Seorang janda bernama Gusti Biang, bangsawan tua sisa-sisa feodalisme Bali, begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya dan dilayani oleh dua pembantu, yaitu seorang lelaki tua bernama Wayan, dan seorang wanita muda bernama Nyoman Niti.
Gusti Biang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta. Tapi putranya, Ratu Ngurah, jatuh cinta kepada Nyoman Niti, pembantu Gusti Biang yang menyadari kemerdekaannya sebagai pribadi. Guncangan pun tak terhindarkan akibat benturan antara nilai-nilai lama yang telah melapuk dan nilai-nilai baru yang hendak mekar. Dan kuncinya ada di tangan Wayan, veteran perang kemerdekaan dan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai yang gugur dalam Perang Puputan, yang selama bertahun-tahun setia mengabdi pada keluarga Gusti Biang.
Suatu hari, pada puncak pertengkaran dengan majikan, Wayan meninggalkan  rumah majikannya itu setelah Nyoman pergi mendahuluinya. Akan tetapi, kepergiannya tertunda karena mendengar pertengkaran janda bangsawan itu dengan anaknya yang baru datang dari Pulau Jawa, Ngurah. Karena persoalan bedil yang dibawa Wayan, terbukalah rahasia keluarga itu. Wayan sebenarnya adalah ayah Ngurah, karena suami Gusti Biang, yaitu Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukanlah lelaki sejati. Bahkan suami yang selalu dibanggakan sebagai pahlawan itu sebenarnya seorang pengkhianat, sebab ia adalah mata-mata Nica.
Dalam permasalahan keluarga Gusti Biang, sebenarnya ia mencintai Wayan namun karena tidak ingin anaknya mengetahui bahwa ayah aslinya adalah seorang pembantu, maka Gusti Biang mengungkapkan rasa cintanya kepada Wayan dengan membentak-bentak dan memarahi Wayan, namun dalam hatinya berbeda.
Permasalahan juga datang saat Ngurah anak Gusti Biang ingin menikahi Nyoman yang notabene adalah pembantunya sendiri. Gusti Biang menolak jika Ngurah ingin menikahi nyoman kecuali hanya dijadikan selir.
Setelah itu Ngurah yang tahu bahwa I Gusti Ngurah Ketut bukan ayah sebenarnya dan mengetahui bahwa sebenarnya adalah seorang mata-mata Nica maka Ngurah pun perlahan benci. Setelah Bedil yang dimiliki oleh Wayan mengenai I Gusti maka Ngurah pun tidak sedih karena I Gusti dianggapnya sebagai penghianat.
Ketika Wayan membuka rahasia keberadaan Ngurah: Wayanlah ayah kandung Ngurah, Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas.
Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah – Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah – Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.
Dalam novel ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut dan bagaimana tersiksanya batin Gusti Biang dan Wayan yang sama-sama memendam perasaannya. Selebihnya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari anaknya sendiri, Ngurah. 
Dalam novel ini dapat dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengonstruksi dan membuat sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel dan klimaks tersebut. Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata, topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang paling sering adalah masalah percintaan dimana seoserang memanfaatkan berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi sebagian pihak.
Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel ini juga dapat diambil beberapa pesan moral yaitu dalam sebuah kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa. Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.
2.7  Sinopsis naskah drama
Judul         :  Bila Malam Bertambah Malam
Karya        : Putu Wijaya
Tema          : Cinta dan Keangkuhan Manusia
Tokoh        :
    1. GUSTI BIANG (pemarah, egois, sombong)
    2. WAYAN (baik hati, setia, lucu)
    3. NYOMAN (baik hati, sabar, setia)
    4. RATU NGURAH (baik, bijaksana, rendah hati, setia)
Tahun terbit     : 1970
ISBN               : 9794191698
LEPASNYA TOPENG KEMUNAFIKAN – NOVEL BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
KARYA PUTU WIJAYA
SINOPSIS :
Di Tabanan Bali Gusti Biang adalah janda almarhum I Gusti Rai seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang hanya tinggal bersama dengan Wayan,seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai dan Nyoman Niti seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri itu.Sementara putra semata wayangnya Ratu Ngurah telah lima tahun meninggalkannya karena ia sedang menuntut ilmu di jawa.
Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta,membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain. Nyoman Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang,haru rela menelan pil pahit akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya.Telah lama Nyoman Niti ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tdak sanggup menahan radang kemarahan terhadap Gusti Biang.Namun Nyoman selalu urung manakala Wayan yang selalu baik dan menghiburnya membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah. Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-banar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan yang Nyoman berikan. Bahkan Gusti Biang tidak segan-segan memukul Nyoman dengan tongkat gadingnya. menimpa ia dan Gusti Biang terulang lagi. Wayan juga Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun tak mampu menahan kepergiannya. Tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang membacakan biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18 tahun. Nyomn tidak menyangka Gusti Biang setega itu akhirnya Nyoman pergi dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi.
Wayan pun menyuruh Ngurah pergi mengejar cintanya yaitu Nyoman Niti. Wayan tidak ingin kejadian yang menasehati Gusti Biang agar merestui hubungan putranya dengan Nyoman. Ia juga mengingatkan cinta yang tak samapi antara dirinya dan gusti Biang hanya perbedaan kasta yang membuat kduanya begitu menderita akhirnya Gusti Biang yang bernama asli Sagung Mirah merestui hubungan Ratu Ngurah dan Nyoman.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam keadaan sekarang topeng kemunafikan memang sudah banyak dipakai, baik di berbagai kalangan. Lebih disayangkan lagi jika dalam novel ini dibahas kemunafikan dalam rumah tangga Gusti Biang, namun dalam ralitasnya topeng kemunafikan dipakai oleh kalangan dan sebagian orang yang diatasnamakan kepentingan rakyat.
Dalam novel ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut. dan bagaimana tersiksanya batin kedua tokoh yaitu Gusti Biang dan Wayan yang sama-sama memendam perasaannya. Selebihya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari anaknya sendiri Ngurah.
Dalam novel ini dapat dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengkonstrusi dan membikin sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel dan klimaks tersebut.
Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata, topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang paring sering adalah dalam masalah percintaan. Dimana seorang memanfaatkan berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi sebagian pihak.
Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel ini juga dapat diambil beberapa pesan moral yaitu dalam sebuah kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa. Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
- https://id.wikipedia.org/wiki/Drama
- http://fadilabahasaindonesia.blogspot.com/2016/06/makalah-teks-dram.html
Iklan/Advertisment

Artikel Kumpulan Tugas Makalah Kelas Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 Kumpulan Tugas Makalah Kelas | Support by Cara Kredit