Makalah upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di indonesia

Iklan/Advertisment

Artikel terkait : Makalah upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di indonesia

Makalah di bawah ini adalah makalah mata pelajaran PKn masuk dalam IPS, bagi kalian yang mendapatkan tugas membuat makalah Makalah upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di indonesia, silahkan saja di copy, namun jangan di buat sama persis ya, edit-editlah sedikit.


MAKALAH

upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di indonesia

Disusun Oleh
Isi Nama dan kelas mu disini

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat dan segala rahim bagi kita semua, hingga akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah tentang upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di indonesia.
Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk lebih baiknya karya Makalah kami kedepannya nanti.


          

                Ttd

                penyusun

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang masalah

Salah satu masalah yang seringkali muncul dalam proses pemilihan kepala daerah adalah menguatnya sentimen primordial yang lebih terikat pada persamaan etnis, aliran, ikatan darah dan berbagai bentuk sifat kedaerahan lainnya. Munculnya masalah ini lebih disebabkan karena karakter masyarakat yang ada di daerah juga berbeda-beda, yang ternyata dapat mempengaruhi preferensi (pilihan) politik masyarakat untuk menentukan kepemimpinan daerah. Beberapa variabel seperti latar belakang etnis, status sosial ekonomi, dan agama, dapat menciptakan suatu polarisasi pilihan politik rakyat menjadi apakah itu sifatnya rasional ataukah emosional.
Sentimen primodial sangat kuat dalam masyarakat daerah dan sangat sulit untuk dihapuskan. Menghapuskan sentimen primodial harus dimulai dengan menghapuskan fanatisme primodial. Setidaknya itu berbanding lurus.
1.2 Rumusan masalah
Apakah langkah-langkah nyata dalam upaya mengurangi sentimen primordial guna membangun sistem politik yang sehat di Indonesia.


Bab II Pembahasan

2.1 Pengertian Sentimen Primodial


Sentimen primordial atau primordialisme adalah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan. Bentuk sentimen primordial ini seringkali "diagung-agungkan" oleh masyarakat era kini, terutama saat waktu-waktu menjelang pemilihan kepala daerah. Pada zaman dahulu, memang sentimen primordial ini seringkali digunakan masyarakat untuk memilih pemimpin mereka.
Mari kita lihat sisi positifnya terlebih dahulu. Jelas, sentimen primordial  berfungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Yang utama adalah dapat meneguhkan rasa cinta terhadap suku tersebut ataupun terhadap tanah air Indonesia. Kemudian hal ini juga bisa berakibat mempertinggi kesetiaan kepada bangsa serta patriotisme. Selain itu juga dapat menjaga keutuhan dan stabilitas budaya.
Namun, meski ada beberapa hal positif, juga terdapat beberapa hal negatif. Dengan adanya sentimen primordial, bisa saja merusak persatuan dan kesatuan karena terlalu “menonjolkan” suatu suku saja.  Dampak negatif dari hal ini diantaranya mengganggu kelangsungan hidup suatu bangsa, menghambat modernisasi karena pola pikir masih kedaerahan, dan bisa merusak integrasi internasional.  Selain itu, yang terburuk adalah bisa menimbulkan konflik yang berkepanjangan.
Jika dilihat dari segi politik saat ini, menjelang pemilihan kepala daerah, sentimen primordial memang memiliki beberapa keuntungan. Dengan sentimen primordial, pemimpin yang dipilih jelas sudah mengenal betul kondisi dan keadaan daerah tersebut. Selain itu, pemimpin yang dipilih sudah tentu cukup dekat dengan para rakyatnya.

2.2 Pengertian Sistem politik yang sehat

Dalam solusi mewujudkan politik yang sehat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal tersebut berangkat dari pandangan politik para pengusungnya dan sejauh mana ia menggalakkan visi misinya. Beberapa pandangan dianut para pelakunya, yang juga kadang menimbulkan gesekan di setiap anggotanya.
Partai politik berisi sekumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama di ranah politik, dan ia terikat dalam suatu organisasi yang sehaluan. Pandangan politik yang ditanamkan stiap partai haruslah sehat dan jernih, bukan untuk kepentingan yang bersifat money oriented saja.
Faktanya, di zaman sekarang ini, masih saja ada segelintir partai politik yang menggalakkan politik uang. Harus diingat bahwa nasib bangsa ini pun patut kita pikirkan. Apa jadinya bangsa ini jika para pemimpinnya pun masih ditunggangi kepentingan segelintir pihak, tanpa memikirkan nasib rakyat.
Pengamalan sila kelima perihal Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tentulah bukan isapan jempol belaka, dan harus diperhatikan secara seksama. Tak dapat dipungkiri, bahwa kemerosotan moral bangsa pun semakin terjadi, yang juga diakibatkan oleh pandangan politik yang tak semestinya.
Banyak hal yang harus ditangani di bangsa ini. Politiklah yang salah satunya menjadi alat pemecahan sederet masalah bangsa melalui sinergi bernilai dari setiap anggotanya. Perpolitikan harusnya mampu menjadi solusi di tengah rentetan masalah yang terjadi. Kekuasaan yang dipegang oleh suatu partai politik pun baiknya digunakan sebijak mungkin, demi mewujudkan bangsa yang beradab, bermartabat sehingga kekuasaannya syarat manfaat.
Dengan dibentuknya partai politik, diharapkan tokoh-tokoh baru muncul yang mampu mengemban tugasnya dengan baik, melahirkan kebijakan yang betul-betul "bijak" hingga melahirkan suatu perubahan yang "menggembirakan" bagi bangsa ini.
Pandangan politik yang sehat tentunya akan melahirkan sitem politik yang sehat pula. Mereka yang memandang bahwa dalam berpolitik itu harus menjunjung tinggi norma-norma yang ada, pastilah ia mewujudkan pemilu yang jujur dan adil dan memberikan ruang kepada khalayak untuk menggunakan kebebasannya dengan sebaik-baiknya.
Dalam suatu pemilu, setiap suara saja begitu berarti. Setiap suara yang didapat merupakan sederet harapan akan pilihan yang tepat. Ketika salah memilih, maka kekuasaan pun tentunya terambil alih oleh dia yang terpilih.

2.3 Upaya mengurangi sentimen primodial


Dalam masyarakat kedaerahan, tokoh masyarakat punya peran sangat penting. Mungkin justru kita bisa memanfaatkan keadaan ini. Memanfaatkan fanatisme primodial untuk menghapuskan fanatisme primodial. Jika orang dari luar kelompok berusaha menghapuskan fanatisme primodial di dalam kelompok, kemungkinan akan muncul perlawanan dari dalam kelompok yang merasa terusik. Tapi jika itu dikerjakan oleh orang di dalam kelompok, mungkin respon dan penerimaannya bisa berbeda. Unsur kedekatan membuat tranfer nilai lebih mudah untuk dilakukan.
Para tokoh masyarakat di daerah dengan dukungan yang besar bisa menjadi saluran pendidikan toleransi dan kebhinekaan dalam pluralisme. Jika para tokoh masyarakat yang dicintai rakyatnya, menjadi teladan dan mendorong rakyatnya untuk meninggalkan sentimen primodial, ada kemungkinan sentimen primodial bisa diminimalisir di negeri ini.
Tapi, berapa banyak tokoh masyarakat dalam popularitas yang begitu nyaman rela mengoper kenyamanannya pada orang lain? Berapa banyak yang mau repot-repot peduli untuk menghapuskan sentimen primodialisme? Malahan mungkin sentimen primodial ditunggangi dengan nikmat oleh para tokoh masyarakat untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini pekerjaan rumah untuk mereka yang benar-benar ingin berjuang untuk menghapuskan sentimen primodial.
Cara lain yang bisa dikerjakan adalah lewat pendidikan formal. Sejak dini, di sekolah-sekolah perlu  ditanamkan nilai-nilai pluralisme dan kebhinekaan. Mungkin cara ini bisa sedikit membantu membentuk pemikiran yang benar dalam diri anak. Sehingga sampai dewasa, ia bisa memegang teguh nilai-nilai tersebut dan tidak mabuk dengan fanatisme primodial. Meski pada kenyataannya, saingannya cukup berat. Nilai-nilai kebhinekaan harus bersaing dengan pendidikan yang diterima anak di rumah. Sebab, umumnya fanatisme primodial lahir dan ditanamkan di dalam keluarga, yang celakanya sebagai pendidik perdana dalam perkembangan diri seorang anak.
Mungkin, kemudian muncul pertanyaan, mengapa tidak membenarkan kecendrungan sentimen primodial pada diri orang tua sehingga mereka bisa mendidik anak-anaknya dengan benar? Jawabannya itu sulit. Sebab orang tua cenderung punya pikiran yang sudah paten dibandingkan anak-anak yang lebih mudah untuk dibentuk. Perlu sesuatu yang benar-benar menghipnotis diri mereka, sehingga mampu mengubah nilai-nilai yang sudah begitu erat dalam pikiran mereka. Misalnya ya, pesona tokoh masyarakat tadi. Sejauh ini, itu cara yang kelihatan lebih ampuh.

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan dan Saran

Bentuk sentimen primordial ini seringkali "diagung-agungkan" oleh masyarakat era kini, terutama saat waktu-waktu menjelang pemilihan kepala daerah. Pada zaman dahulu, memang sentimen primordial ini seringkali digunakan masyarakat untuk memilih pemimpin mereka, melihat sistem politik demokrasi yang sehat yang tentunya tidak harus memilih dai suku atau kedaerahan tentu tidak cocok lagi dalam membangun sistem politik yang sehat di indonesia, maka perlu ada upaya untuk menanggulanginya yaitu :
1.    Memanfaatkan fanatisme primodial untuk menghapuskan fanatisme primodial. Jika orang dari luar kelompok berusaha menghapuskan fanatisme primodial di dalam kelompok, kemungkinan akan muncul perlawanan dari dalam kelompok yang merasa terusik.
2.    Para tokoh masyarakat di daerah dengan dukungan yang besar bisa menjadi saluran pendidikan toleransi dan kebhinekaan dalam pluralisme
3.    Pendidikan formal Sejak dini, di sekolah-sekolah perlu  ditanamkan nilai-nilai pluralisme dan kebhinekaan
Daftar Pustaka
1. http://www.kompasiana.com/deirdretenawin/sentimen-primodial-penyakit-dalam-sistem-politik-indonesia_550e7a57a33311ac2dba8270
2. https://rukantokas.wordpress.com/2010/09/05/sentimen-primordial-dan-partisipasi-politik/
3. http://www.kompasiana.com/michaelagungn/sentimen-primordial-masihkah-relevan-hingga-kini_58316c0b82afbd9e0ae1f3a2
4. http://thedarkancokullujaba.blogspot.co.id/2012/10/pandangan-politik-yang-sehat.html
Iklan/Advertisment

Artikel Kumpulan Tugas Makalah Kelas Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 Kumpulan Tugas Makalah Kelas | Support by Cara Kredit